Berani Memulai, Berani Berproses, Berani Berprestasi
Hari Olahraga Nasional menjadi momentum untuk mengingat bahwa olahraga bukan sekadar tentang kemenangan, tetapi juga tentang semangat, disiplin, sportivitas, dan keberanian untuk terus berproses.
“Saya pertama kali mengikuti Ju-Jitsu sejak menjadi mahasiswa baru, hingga memasuki semester tiga, saya masih aktif berlatih dan berusaha menjaga konsistensi, selama perjalanan tersebut, saya berkesempatan mengikuti Piala KONI Kota Surabaya dan Kejuaraan Nasional SLC Cup Road to Japan, setelah kurang lebih satu tahun menekuni Ju-Jitsu, saya mulai mengikuti IBCA MMA dan mendapatkan pengalaman melalui latihan fisik, tes fisik, serta pertandingan Piala Wali Kota Madiun Adu Wani IBCA MMA 2026 pada Juli lalu, saya sekarang sedang menjalani proses seleksi Porprov 2027 dan akan mengikuti Kejurprov IBCA MMA se-Jawa Timur di Blitar pada 17 September mendatang” Ucap Ni Made Rara.
Sebagai mahasiswa Pendidikan Sejarah, perjalanan dalam dunia olahraga juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan pembelajaran di luar ruang kelas. Nilai-nilai yang diperoleh melalui latihan Ju-Jitsu dan IBCA MMA, seperti disiplin, tanggung jawab, ketekunan, sportivitas, serta kemampuan menghadapi kegagalan, memiliki keterkaitan erat dengan pendidikan karakter yang menjadi bagian penting dalam pendidikan sejarah. Sejarah mengajarkan bahwa sebuah pencapaian tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang, perjuangan, konsistensi, dan keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan.
Pengalaman sebagai mahasiswa sekaligus atlet juga menjadi bentuk nyata kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Aktivitas olahraga mendukung SDG 3, yaitu kehidupan sehat dan kesejahteraan, melalui penerapan pola hidup aktif dan sehat. Di sisi lain, keseimbangan antara pendidikan dan olahraga mencerminkan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, karena pendidikan tidak hanya berlangsung melalui proses akademik, tetapi juga melalui pengalaman, pembentukan karakter, dan pengembangan potensi diri. Semangat untuk terus berlatih tanpa memandang gender juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan SDG 5 tentang kesetaraan gender, bahwa perempuan memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk berkembang, berkompetisi, serta meraih prestasi di bidang olahraga.
Bagi saya, menjadi mahasiswa Pendidikan Sejarah dan atlet bukanlah dua perjalanan yang terpisah. Keduanya sama-sama mengajarkan arti proses. Dari sejarah, saya belajar memahami perjuangan dan mengambil pelajaran dari masa lalu; dari olahraga, saya belajar menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata. Karena itu, keberanian untuk memulai, ketekunan dalam berproses, dan kemauan untuk terus belajar merupakan bekal penting, bukan hanya untuk mencapai prestasi sebagai atlet, tetapi juga untuk menjadi generasi muda yang sehat, berkarakter, berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.