Museum Goes to School, Solusi Hadirkan Rasa Cinta Sejarah Pada Generasi Muda
Dalam diskusi
tersebut Pak Agus (Sapaan Muhammad
Triatmanto Agustiono -pen.),
menekankan pentingnya pameran
sebagai sarana komunikasi dan edukasi. secara lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa
pameran yang ideal
tidak hanya menampilkan koleksi semata,
namun juga menghadirkan konteks sejarahnya melalui pendekatan museologi.
“Pengunjung tak hanya mengenal bentuk benda, tetapi
juga cerita dan maknanya. Kita harus gunakan gimmick untuk menarik minat
generasi muda,” tegasnya.
Selain itu Pak Agus juga menekankan pentingnya pemanfaatan
teknologi interaktif dalam konsep pameran kontemporer sehingga pameran dapat
lebih relevan dengan kebutuhan pengunjung terutama bagi pengunjung generasi
muda.
“Kami sekarang menggunakan pendekatan berbasis teknologi
karena masyarakat lebih menyukai informasi yang bersifat interaktif,” jelasnya.
Senada dengan yang disampaikan Pak Agus, Menurut
Bapak Drs. Soemarno, M.Hum. salah satu dosen S1 Pendidikan Sejarah,
Universitas Negeri Surabaya, dalam diskusi tersebut juga
menyoroti bahwa peluang untuk dapat memperkaya koleksi dan konten pameran,
misalnya dengan tema jalur rempah,
Dalam diskusi tersebut beliau juga menyatakan minat dan antusiasme tinggi terhadap
pameran temporer di sekolah dan kampus yang selama ini menjadi fokus utama Musea melalui program “Museum Goes to School”, hingga
“Museum Goes to Pesantren”
Diakhir kegiatan
disampaikan bahwa, Kegiatan Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan pameran sejarah
yang tidak hanya dapat
menambah wawasan semata, melainkan juga menciptakan pengalaman yang bermakna
bagi masyarakat terutama
mengenai cara mengenal sejarah lebih dekat, dengan menyasar masyarakat secara
lebih luas terutama pada generasi muda. (Aji)