Pendidikan Sejarah Unesa Bahas Pentingnya Repatriasi Benda Sejarah sebagai Aset Bangsa

Senin (2/12), Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk "Penemuan, Repatriasi, dan Pemanfaatan Benda-Benda Bersejarah di Indonesia." Acara ini berlangsung di Auditorium I6 Srikandi, FISIPOL Unesa.
Kuliah tamu ini menghadirkan Mohammad Refi Omar Ar Razy, M.Hum., dosen Pendidikan Sejarah Unesa yang fokus pada isu repatriasi benda-benda sejarah; Eko Bastiawan, M.A., peneliti École française d'Extrême-Orient (EFEO) yang mendalami kajian benda-benda prasasti; serta Esa Putra Bayu Gusti Gineung Patridina, S.S., M.A., ahli arkeologi yang juga dosen Pendidikan Sejarah Unesa. Acara dimoderatori oleh Dr. Izzatul Fajriyah, M.Pd., yang juga merupakan dosen Pendidikan Sejarah Unesa.
Peninggalan sejarah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sangatlah banyak dan beragam. Namun, disampaikan oleh Razy bahwa keberadaan dari benda-benda tersebut tidak sepenuhnya berada di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh penjajahan yang dialami oleh Indonesia di masa lalu.
“Peninggalan sejarah kita itu banyak sekali, bahkan sebagian besar berada tersebar di luar negeri mulai dari Eropa hingga Amerika”, ucap Razy.
Senada dengan Razy, Eko menilai bahwa keberadaan benda-benda bersejarah ini sangat berharga karena mencatat peristiwa-peristiwa penting di masa lalu. Sehingga, pengelolaan benda-benda bersejarah untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan penguatan identitas nasional harus betul-betul diperhatikan.
“Benda-benda bersejarah yang asalnya dari Indonesia ini harus kita perhatikan betul kebermanfaatannya”, ujar Eko.
Sebagai penutup, Esa menambahkan pentingnya menjaga benda-benda bersejarah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Meskipun keberadaannya tersebar di seluruh dunia, tetap saja kita harus memperjuangkan hak atas benda-benda ini, tidak hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai aset untuk pendidikan dan penguatan nasionalisme.
“Walaupun tidak di Indonesia, benda-benda tersebut tetap menjadi cerminan jati diri bangsa Indonesia”, tutup Esa. (WA. Faiz)