Tingkatkan Kompetensi Guru Sejarah melalui Penyusunan LKS Berliterasi

Surabaya - Jumat,
15 Juli 2022 bertempat di Kampus Unesa Ketintang Tim Dosen Prodi Sejarah yang dimotori
Sri Mastuti Purwaningsih, M.Hum menyelenggakan kegiatan Pengabdian Masyarakat bagi
guru sejarah di Jawa Timur dalam bentuk workshop yang bertajuk "Peningkatan
Kompetensi Guru dalam Pengembangan LKS Literasi Sejarah tingkat Jawa
Timur.
Kegiatan
yang berlangsung selama 3 hari ini diikuti oleh 120 guru sejarah yang tersebar
dari berbagai sekolah di Jawa Timur. Kegiatan dimulai pada hari pertama, Jumat
15 Juli 2022 dimulai dari paparan materi tentang bedah filosofi kurikulum nasional
hingga perkembangan trend
pembelajaran sejarah oleh Dr. Agus Suprijono, M.Si. “melalui telaah kurikulum
memberikan tambahan pengetahun bagi para guru, yang selama ini beberapa masih
cukup umum pemahaman kami tentang pembelajaran sejarah. Selain itu, pemaparan
para narasumber memantik inspirasi baru dalam mendesain pembelajaran sejarah di
kelas” ucap, Muhammad Ammar, Guru SMA Lab Unesa Surabaya.
Mendalami
inovasi dan perkembangan pembelajaran sejarah di masa ini, dijelaskan pada hari
kedua, Sabtu 16 Juli 2022 oleh Sri Mastuti Purwaningsih, M.Hum tentang urgensi penyusunan
Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang memuat literasi sejarah. Dipaparkan beliau, “Tuntutan
keterampilan sejarah, bukan hanya memahami peristiwa masa lampau, namun
bagimana value dari peristiwa dapat dipahami oleh siswa. Untuk mencapai ini,
maka tepat kiranya pembelajaran sejarah harus by process, dengan adanya LKS
mempermudah pencapaian tujuan tersebut, terlebih tantangan penceranaan
informasi masa sekarang yang sangat dinamis maka diperlukan keterampilan mencerna
literasi informasi yang tepat, sehingga siswa tidak mudah terombang-ambil dalam
dinamika berita yang sarat dengan berbagai kepentingan”.
Materi
pembelajaran sejarah dapat diambil atau berangkat dari pengalaman sehari-hari
para siswa dan disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. Pembelajaran sejarah
dapat dilakukan secara dialogis dan bersifat demokratis memungkinkan siswa
untuk mengembangkan nilai-nilai yang relevan dengan kondisi masyarakat yang
majemuk dan global tetapi tidak bertentangan dengan realitas kehidupan
sehari-hari. Sebagai contoh yakni, salah satu tema yang dapat dikembangkan
dalam pembelajaran sejarah lokal adalah “toponimi” atau asal-usul nama tempat.
Kajian mengenai toponimi lokal merupakan topik-topik sejarah lokal yang
terdekat, unik dan bersifat detail atau dalam istilah Rosihan Anwar disebut
petite histoire. Banyak siswa yang asing di lingkungan mereka sendiri, maka
untuk mereduksi sikap ‘acuh tak acuh’ terhadap sejarah penamaan suatu tempat
dapat dilakukan melalui saluran pendidikan, yaitu dengan cara membangun
literasi sejarah siswa terhadap narasi sejarah nama-nama tempat yang terdapat
di sekitarnya atau bahkan yang berada dekat di sekolahnya. Contoh di atas memantik
banyak ide kreatif dari para guru untuk Menyusun dan mengembangkan LKS yang
inovatif, sehingga bisa membawa pembelajaran sejarah kea rah yang lebih
menyenangkan.
Pemantapan
konsep tentang LKS yang baik dan benar ini dilajutkan oleh pemateri lain yakni
Corry Liana, M.Pd, yang memaparkan teknik dan strategi Menyusun LKS berliterasi. Kegiatan
ini juga didesain dalam bentuk pendampingan pada hari ketiga dan keempat, Sabtu
dan Minggu, 17 dan 18 Juni 2022, yakni penyusunan produk berupa LKS Sejarah
yang berliterasi, pendampingan dilakukan oleh Dinar Rizky Listyanaputri, M.Pd,
dan Riyadi, M.A. Output dari pelatihan yakni LKS yang berliterasi sejarah.
Merespon
kegiatan ini, disampaikan oleh Eko Subyakto, Guru Sejarah di salah satu sekolah
di Jawa Timur yang juga alumni Prodi Sejarah FISH Unesa “saya merasa senang,
memory saya kuliah di kampus ini Kembali mencuat, bertemu dosen, bertemu kawan
yang sekarang tentunya sudah berbeda dengan Ketika masih kuliah, namun yang
paling penting yakni adanya recharge bagi kami, para guru, untuk terus inovatif
dan kreatif mengembangkan berbagai perangkat pembelajaran salah satunya LKS. Materi
dan pendampingan yang dilakukan seolah memantik dan menyulut bahwa pembelajaran
sejarah harus keluar dari rutinitas, harus inovatif, selaras dengan
tanggungjawab besar yang diemban oleh pelajaran sejarah. Kami berharap,
kegiatan ini akan berlangsung secara series, tidak hanya berhenti pada kegiatan
hari ini saja”. Merespon tanggapan
peserta, tim pelaksana PKM Prodi Sejarah terus berkomitkan untuk mendesiminasikan
hasil penelitian dan pembelajaran dalam bentuk PKM sebagai pelaksana kegiatan
tri dharma perguruan tinggi. -R-